Selama Perang Dunia II, Austria menjadi salah satu wilayah yang dikuasai
Nazi Jerman. Pada masa itu, seorang psikiater bernama Viktor Frankl,
yang berasal dari keluarga Yahudi, ditawan bersama keluarganya dan ditempatkan
di kamp konsentrasi. Frankl, meskipun berada dalam situasi penindasan dan
penderitaan ekstrem, tetap berusaha mengabdikan dirinya dengan memberikan
pengajaran dan layanan medis sederhana kepada sesama tahanan.
Kehidupan di kamp konsentrasi adalah sebuah penderitaan yang hampir tak pernah
terbayangkan. Dimana, Frankl harus menyaksikan kematian ayahnya akibat
kelaparan, kemudian ibunya yang dibunuh, disusul oleh saudara laki-lakinya.
Penderitaan semakin mendalam ketika istrinya, yang sedang hamil, dipindahkan ke
kamp lain dan kemudian dibunuh. Rangkaian kehilangan tersebut meninggalkan luka
mendalam bagi Frankl—baik secara fisik karena siksaan, maupun secara psikologis
karena trauma yang begitu besar. Namun, di tengah penderitaan itu, ia menemukan
bahwa ada ruang batin yang tak bisa dijajah oleh siapa pun: kebebasan untuk
memilih sikap menghadapi penderitaan.
Setelah Perang Dunia II usai dan ia dibebaskan oleh tentara Amerika,
Frankl kembali ke Wina. Di sana, ia menuliskan pengalamannya dalam sebuah karya
monumental berjudul Man’s Search for Meaning. Buku tersebut bukan
sekadar catatan penderitaan, tetapi juga refleksi eksistensial dan fondasi dari
pendekatan psikoterapinya, yakni logoterapi. Hingga kini, karya itu
diakui sebagai salah satu literatur paling berpengaruh dalam bidang psikologi
modern.
Pesan utama Frankl sederhana namun mendalam: kita tidak dapat memilih
atau mengubah situasi hidup yang menimpa kita, tetapi kita selalu dapat memilih
bagaimana kita menanggapinya. Penderitaan, betapapun beratnya, dapat
menjadi ruang bagi pertumbuhan makna dan kebijaksanaan. Pandangan ini memiliki
resonansi yang kuat dengan filsafat Stoikisme.
Dalam Stoikisme terdapat konsep dikotomi kontrol, yakni pemisahan
antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang tidak. Stoisisme
tidak mengajarkan untuk menyerah pada keadaan, tetapi menekankan keteguhan
dalam menerima hal-hal di luar kendali, sembari tetap mengusahakan respons
terbaik pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Apa yang dialami Frankl
mencerminkan penerapan nyata prinsip ini.
Dengan demikian, baik melalui lensa logoterapi maupun Stoikisme, kisah
Frankl menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Justru,
dalam penderitaanlah manusia dapat menemukan arti terdalam dari hidupnya. Ketekunan
tidak sama dengan menyerah, melainkan bentuk keberanian untuk bertahan,
tetap jernih dalam berpikir, dan terus melangkah menuju kebahagiaan sejati.
“Dalam situasi apa pun—termasuk penderitaan hidup—menerapkan filsafat
Stoik dengan konsep dikotomi kontrol adalah kunci. Ketekunan bukan
berarti menyerah, melainkan merawat kebebasan batin untuk tetap hidup dengan
penuh makna.”
Manjakan
dirimu dengan klik link: https://collshp.com/terpurukid_ untuk rekomendasi
berbagai buku favorit tuan dan puan yang gelisah dan mencari kebahagiaan. Salam
hangat penuh kehangatan untuk semua. Terima kasih. Info ramah lainnya:
Instagram @terpuruk_id.
"Hati-hati!
Dalam perjalanan Tuhan menyertai kita". Oleh Terpurukid.
References:
Henry Manampiring (2019). Filosofi Teras.


Komentar
Posting Komentar