Langsung ke konten utama

Isu “Kudeta Politik” Prabowo oleh Gibran Mengemuka: Bermula dari Candaan Kaesang hingga Prediksi Rocky Gerung

ilustrasi. sumber foto: chatgpt.com Isu mengenai kemungkinan Presiden Prabowo Subianto akan “dikudeta” oleh wakil presidennya, yaitu Gibran Rakabuming Raka pada tahun 2029,  muncul ke permukaan pada saat dimana setelah pernyataan Kaesang Pangarep dalam sebuah podcast YouTube, channel miliknya yaitu "Kaesang Pangarep by GK Hebat". Video tersebut viral di media sosial, dimana podcast tersebut saat itu dipandu oleh Kiki dan bintang tamu oleh Bobon Santoso, mulanya percakapan berlangsung santai dan banyak mengundang tawa, akan tetapi dalam podcastnya itu, Kaesang secara tidak sengaja melontarkan kalimat yang seolah-olah menyiratkan bahwa adiknya kelak akan menjadi wakil presiden dan berpotensi “mengambil alih” kekuasaan dari Prabowo. Diketahui, percakapan ini terjadi sebelum pilpres, dan meskipun pernyataan itu disampaikan dengan nada bercanda, salah satu tamu dalam podcast tersebut ada yang menanggapinya bahwa hal itu serius, bahkan menyebut Kaesang terlalu polos dan kurang berh...

Kesabaran dalam Penderitaan: Relevansi Stoikisme dan Kisah Viktor Frankl di Kamp Konsentrasi

Ilustration; Foto Viktor Frankl. (Sumber: ChatGPT.com).


Selama Perang Dunia II, Austria menjadi salah satu wilayah yang dikuasai Nazi Jerman. Pada masa itu, seorang psikiater bernama Viktor Frankl, yang berasal dari keluarga Yahudi, ditawan bersama keluarganya dan ditempatkan di kamp konsentrasi. Frankl, meskipun berada dalam situasi penindasan dan penderitaan ekstrem, tetap berusaha mengabdikan dirinya dengan memberikan pengajaran dan layanan medis sederhana kepada sesama tahanan.

Kehidupan di kamp konsentrasi adalah sebuah penderitaan yang hampir tak pernah terbayangkan. Dimana, Frankl harus menyaksikan kematian ayahnya akibat kelaparan, kemudian ibunya yang dibunuh, disusul oleh saudara laki-lakinya. Penderitaan semakin mendalam ketika istrinya, yang sedang hamil, dipindahkan ke kamp lain dan kemudian dibunuh. Rangkaian kehilangan tersebut meninggalkan luka mendalam bagi Frankl—baik secara fisik karena siksaan, maupun secara psikologis karena trauma yang begitu besar. Namun, di tengah penderitaan itu, ia menemukan bahwa ada ruang batin yang tak bisa dijajah oleh siapa pun: kebebasan untuk memilih sikap menghadapi penderitaan.

Setelah Perang Dunia II usai dan ia dibebaskan oleh tentara Amerika, Frankl kembali ke Wina. Di sana, ia menuliskan pengalamannya dalam sebuah karya monumental berjudul Man’s Search for Meaning. Buku tersebut bukan sekadar catatan penderitaan, tetapi juga refleksi eksistensial dan fondasi dari pendekatan psikoterapinya, yakni logoterapi. Hingga kini, karya itu diakui sebagai salah satu literatur paling berpengaruh dalam bidang psikologi modern.

Pesan utama Frankl sederhana namun mendalam: kita tidak dapat memilih atau mengubah situasi hidup yang menimpa kita, tetapi kita selalu dapat memilih bagaimana kita menanggapinya. Penderitaan, betapapun beratnya, dapat menjadi ruang bagi pertumbuhan makna dan kebijaksanaan. Pandangan ini memiliki resonansi yang kuat dengan filsafat Stoikisme.

Dalam Stoikisme terdapat konsep dikotomi kontrol, yakni pemisahan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang tidak. Stoisisme tidak mengajarkan untuk menyerah pada keadaan, tetapi menekankan keteguhan dalam menerima hal-hal di luar kendali, sembari tetap mengusahakan respons terbaik pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Apa yang dialami Frankl mencerminkan penerapan nyata prinsip ini.

Dengan demikian, baik melalui lensa logoterapi maupun Stoikisme, kisah Frankl menunjukkan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Justru, dalam penderitaanlah manusia dapat menemukan arti terdalam dari hidupnya. Ketekunan tidak sama dengan menyerah, melainkan bentuk keberanian untuk bertahan, tetap jernih dalam berpikir, dan terus melangkah menuju kebahagiaan sejati.

“Dalam situasi apa pun—termasuk penderitaan hidup—menerapkan filsafat Stoik dengan konsep dikotomi kontrol adalah kunci. Ketekunan bukan berarti menyerah, melainkan merawat kebebasan batin untuk tetap hidup dengan penuh makna.”

 

Manjakan dirimu dengan klik link: https://collshp.com/terpurukid_ untuk rekomendasi berbagai buku favorit tuan dan puan yang gelisah dan mencari kebahagiaan. Salam hangat penuh kehangatan untuk semua. Terima kasih. Info ramah lainnya: Instagram @terpuruk_id.

"Hati-hati! Dalam perjalanan Tuhan menyertai kita". Oleh Terpurukid.

References: Henry Manampiring (2019). Filosofi Teras.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Isu “Kudeta Politik” Prabowo oleh Gibran Mengemuka: Bermula dari Candaan Kaesang hingga Prediksi Rocky Gerung

ilustrasi. sumber foto: chatgpt.com Isu mengenai kemungkinan Presiden Prabowo Subianto akan “dikudeta” oleh wakil presidennya, yaitu Gibran Rakabuming Raka pada tahun 2029,  muncul ke permukaan pada saat dimana setelah pernyataan Kaesang Pangarep dalam sebuah podcast YouTube, channel miliknya yaitu "Kaesang Pangarep by GK Hebat". Video tersebut viral di media sosial, dimana podcast tersebut saat itu dipandu oleh Kiki dan bintang tamu oleh Bobon Santoso, mulanya percakapan berlangsung santai dan banyak mengundang tawa, akan tetapi dalam podcastnya itu, Kaesang secara tidak sengaja melontarkan kalimat yang seolah-olah menyiratkan bahwa adiknya kelak akan menjadi wakil presiden dan berpotensi “mengambil alih” kekuasaan dari Prabowo. Diketahui, percakapan ini terjadi sebelum pilpres, dan meskipun pernyataan itu disampaikan dengan nada bercanda, salah satu tamu dalam podcast tersebut ada yang menanggapinya bahwa hal itu serius, bahkan menyebut Kaesang terlalu polos dan kurang berh...

Hakikat Filsafat Pendidikan di Era Digital Menurut Boris V. Markov & Svetlana V. Volkova: Sebuah Penelitian pada tahun 2020

Ilustration; Seorang Bapak Filsafat Pendidikan Memegang Buku. (Sumber foto: pngtree. com ). Secara sederhana, pada dasarnya  filsafat pendidikan merupakan sebuah refleksi rasional dan kritis tentang hakikat manusia, pengetahuan, nilai, dan proses belajar. Artinya, dalam hal ini tentu menjadi dasar atau landasan terhadap arah dan tujuan pendidikan. Sementara, dalam era digital, filsafat pendidikan tetap harus memiliki relevansi, dan juga menjadi kompas moral dan intelektual untuk menavigasi kompleksitas teknologi. Menurut Markov dan Volkova (2020), filsafat pendidikan di era digital harus mengarahkan manusia agar tidak menjadi “ pengguna buta teknologi ”, tetapi juga tetap memiliki kesadaran etis dan mempunyai kompetensi dalam berpikir reflektif atas setiap tindakan digitalnya. Pasalnya, meskipun sangat banyak dari beberapa aliran dan metode dalam dunia filsafat dan pendidikan, sebenarnya, analisis yang benar-benar mendalam dan sistematis dalam filsafat pendidikan masih jarang dil...

Minat Baca di Indonesia: Urgensi Membaca dan Keterkaitannya dengan Mutu Pendidikan

Ilustration; Anak Kecil Membaca Buku di Perpustakaan. (Sumber foto: Pxhere.com ). Minat baca merupakan salah satu indikator penting bagi suatu negara, dalam menentukan kualitas sumber daya manusianya. Bangsa yang gemar membaca, akan memiliki tingkat literasi atau pengetahuan yang tinggi, berpikir kritis, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun, berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Kondisi seperti ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan nasional yang seharusnya menjadi ruang utama pembentukan karakter dan kecerdasan bangsa (Yoni, E: 2020). Pentingnya Minat Baca Dalam Mendorong Kemajuan Dunia Pendidikan.  Inovasi Pendidikan ,  7 (1). Oleh karena itu, membangun budaya membaca bukan sekadar kegiatan individu, tetapi juga sebuah urgensi nasional dalam meningkatkan mutu bagi pendidikan. Indonesia memiliki Perpustakaan Tertinggi di Dunia, Namun minat baca Masyarakat masih rendah? Pada ajang bergen...

Information