Isu kesehatan mental kini menjadi perhatian serius di Indonesia. Meski kesadaran masyarakat meningkat, tantangan dalam penanganan gangguan mental masih besar, mulai dari kurangnya tenaga profesional hingga kuatnya stigma sosial.
Dalam
artikelnya Kesehatan Mental di Indonesia: Tantangan, Dampak, dan Solusi Mendesak, Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), menjelaskan bahwa peningkatan
masalah kesehatan mental menjadi isu yang semakin mendesak di tengah tekanan
hidup modern.
Selain
itu, RSPP juga menegaskan bahwa pentingnya edukasi dan dukungan sosial agar
masyarakat lebih berani mencari pertolongan profesional tanpa takut stigma.
Layanan konseling, pemeriksaan psikologis, dan pendekatan komunitas menjadi
bagian penting dari solusi menyeluruh untuk membangun kesejahteraan mental
nasional.
Anak dan Keluarga, Garis Pertahanan Pertama
UNICEF Indonesia, menyoroti terhadap pentingnya keluarga dalam menjaga kesehatan mental anak.
Orang tua dan pengasuh dalam hal ini memiliki peran besar dalam membentuk daya tahan
emosional seorang anak, seperti halnya melalui komunikasi terbuka, kasih sayang, dan dukungan positif.
Melalui
pendekatan berbasis masyarakat, UNICEF juga sangat menekankan dan mendorong
penguatan terhadap peranan orang tua, guru, ataupun pengasuh agar mampu
mengenali tekanan emosional pada anak serta memberikan dukungan yang empatik
dan tidak menghakimi. Tentu, dengan upaya ini diharapkan mampu menumbuhkan
ketahanan psikologis dan kesejahteraan emosional sejak dini.
Lonjakan Kasus dan Dampak Sosial
Menurut
laporan dari BBC Indonesia, menyatakan bahwa dari hasil
survei nasional kesehatan mental remaja Indonesia (I-NAMHS, 2022) menunjukkan
bahwa jumlah anak dan remaja dengan persoalan kesehatan mental berpotensi
meningkat hingga tahun 2025, seiring kenaikan kunjungan ke layanan psikologi,
sekitar 20–30 persen. Meski kesadaran masyarakat mulai tumbuh, gejala awal
sering disalahartikan sebagai kenakalan atau kemalasan, bukan tanda gangguan
psikologis. Psikolog dan pendidik Najelaa Shihab menegaskan bahwa kondisi ini
dipengaruhi oleh banyak faktor—mulai dari pola asuh di rumah, sistem
pembelajaran di sekolah, hingga relasi sosial dan pengalaman pribadi anak.
Fenomena ini juga terjadi secara global; WHO memperkirakan satu dari tujuh anak
usia 10–19 tahun mengalami gangguan mental, yang kerap berdampak pada
diskriminasi, kesulitan belajar, hingga risiko pelanggaran hak asasi.
Langkah Solutif: Dari Sistem hingga Individu
Untuk
memperbaiki kondisi, situasi, dalam hal ini, tentu untuk pemerintah perlu memperkuat regulasi, memperluas
layanan kesehatan mental di puskesmas, serta menghapus stigma sebagaimana melalui edukasi
publik.
Di sisi lain, individu juga dapat berperan aktif dengan, seperti:
- Mengenali gejala sejak dini,
- Berbicara dengan
orang terpercaya,
- Menghindari diagnosis
mandiri, dan
- Menjaga keseimbangan
hidup (seperti tidur dengan cukup, olahraga, dan mengelola stres digital).
Menuju Masyarakat yang Lebih Peduli Kesehatan Mental
Meskipun terbilang jalan masih panjang, kesadaran masyarakat harus mulai tumbuh. Komunitas seperti Into
The Light Indonesia menjadi contoh nyata gerakan muda yang peduli pada isu
kesehatan mental dan edukasi publik.
Kesehatan
mental bukan lagi topik tabu, hal ini adalah hak dasar setiap manusia untuk hidup
sehat, lahir dan batin. Untuk itu, mari tetap kita soroti dan perhatikan bersama. Seperti yang pernah disampaikan oleh UNICEF, bahwa “Dukungan yang sederhana bisa membuat perbedaan
besar".


Komentar
Posting Komentar