Di kehidupan modern saat ini, tanpa disadari kita
telah hidup bersandingan dengan teknologi. Sehari-hari kebanyakan orang
menyibukan dirinya hanya bermain sosial media. Terkadang, pada saat kita berada
di bawah banyak tekanan dari berbagai arah, sebagaimana akibat beban kerja,
tuntutan sosial, hingga ekspektasi pribadi yang terlalu tinggi. Dan hal ini
membuat kebanyakan orang khususnya generasi sekarang cenderung sering
menghadapi stres. Terlebih apabila mereka yang hanya mencari solusi, atau
mungkin tidak, selalu menaruh dan menyandarkan stres ke sosial media. Mulai
dari curhat hingga marah-marah, ataupun hanya berdiam diri dengan tetap scroll
hp dan tidak mencari solusi. Dalam persoalan ini, seseorang termakan zaman dan
menghilangkan salah satu kunci untuk mereda stres, bahkan menghilangkan, yaitu
dengan cara kita bersosial “komunikasi nyata”. Baik dengan teman, keluarga, pasangan,
hingga orang lain. Sementara, kajian
filsafat Stoik hadir untuk menawarkan pandangan mendalam tentang pentingnya
menjaga keseimbangan batin dan peran terhadap dukungan sosial (social
support) sebagai bagian dari kebijaksanaan untuk hidup yang lebih bahagia.
Apa itu Stress?
Untuk lebih jauh, ada baiknya terlebih dahulu kita
memahami apa itu stres?. Karena mungkin bagi para pembaca, masih banyak yang
belum memahami betul apa itu stres, dan apa hubungannya dengan cemas atau
khawatir dan rasa takut. Dan kebanyakan orang juga mungkin masih banyak yang
beranggapan bahwa stres adalah gila. Tapi bukan itu yang dimaksudkan. Pada
dasarnya ketika kita dihadapkan dalam berbagai problematika hidup, adalah hal
yang wajar ketika kita harus merasakan cemas atau khawatir hingga rasa takut. Cemas
atau khawatir, yaitu perasaan yang muncul dari pikiran atau persepsi yang dapat
dibilang keliru, atas objek yang pada nyatanya belum terjadi, dan hal ini tidak
bisa dijelaskan mengapa. Berbeda dengan takut, karena takut adalah hal yang
mempunyai objek atas apa yang kita takuti. “Saya takut anjing itu mengejar”,
atau “Saya takut pada dosen karena saya tidak mengerjakan tugas”. Yang kita
takutkan jelas adalah anjing, ataupun dosen. Dan cemas atau khawatir, juga
menyelimuti pada perasaan takut itu. Sementara, stres terjadi apabila dari
peristiwa atau kejadian itu betul dan benar terjadi, kita mendapat tekanan
hingga membuat kita stres. Jadi, dapat disimpulkan bahwa stres adalah sebuah
tekanan yang menyelimuti perasaan dan pikiran kita yang diawali atau dibarengi dengan
kekhawatiran ataupun ketakutan atas peristiwa yang telah kita hadapi atau yang
belum kita lakukan.
Pandangan Stoikisme tentang Manusia dan Sosialitas
Filsafat Stoik, yang dipelopori oleh Zeno dari Citium
dan kemudian dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Seneca, Epictetus, dan
Marcus Aurelius ini menekankan bahwa manusia adalah makhluk rasional sekaligus
sosial. Stoikisme memandang bahwa hidup dalam harmoni dengan rasio dan alam
berarti juga hidup selaras dengan sesama manusia (Hadot, 1995).
Dalam Meditations, Marcus Aurelius menulis
bahwa manusia “dilahirkan untuk bekerja sama, seperti tangan kanan dan kiri”
(Aurelius, 2019). Pernyataan ini menunjukkan bahwa kebersamaan dan dukungan
sosial bukan sekadar pilihan moral, melainkan bagian dari kodrat manusia.
Disisi lain, bahkan dalam ajaran tersulit dari aliran stoik ini adalah
kathekonta. Yaitu “Kewajiban sosial sebenarnya; tidak wajib, akan tetapi sudah
menjadi sebuah “keharusan dilakukan”.
Sosial Support sebagai Penopang Keteguhan Mental
Stoikisme memang mengajarkan kemandirian emosional dan
keteguhan dalam menghadapi penderitaan atau rasa takut, tetapi bukan berarti
menolak keberadaan atau eksistensi orang lain. Justru, dalam konteks oikeiosis,
yaitu sebuah konsep Stoik tentang keterikatan alami bahwa setiap individu
memiliki kecenderungan untuk terhubung dan membangun relasi yang sehat (Annas,
2007).
Dukungan sosial yang dimaksudkan dalam hal ini, bukan
dimaknai sebagai ketergantungan, melainkan bentuk kebajikan praktis sebagaimana
untuk berbagi empati, memberi nasihat yang rasional, serta menolong dengan
dasar kebijaksanaan. Dalam perspektif psikologi kontemporer, hal ini selaras
dengan temuan bahwa dukungan sosial efektif menurunkan risiko stres dan depresi
(Cohen & Wills, 1985). Tentu, bagi seseorang membutuhkan sosial support
seperti teman, keluarga, pasangan, atau orang lain. Dengan begitu, seseorang dapat
dikatakan sempurna dalam menjalani kehidupan yang nyata.
Relevansi Stoikisme dengan Psikologi Modern
Pandangan Stoik, dalam hal ini ternyata memiliki kemiripan dengan pendekatan psikologi modern, terutama pada Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Mindfulness-Based Stress Reduction (Kabat-Zinn, 1994). Baca Juga Artikel sebelumnya: Tentang Sebuah Konsep Mindfulness & Stoikisme dalam Filsafat Kuno. Kedua pendekatan tersebut sama-sama menekankan kesadaran terhadap pikiran dan penerimaan realitas tanpa reaksi berlebihan. Namun, di saat yang sama, psikologi modern juga menegaskan pentingnya faktor eksternal, dukungan sosial, komunitas, dan lingkungan emosional guna menjaga kesehatan mental agar tetap stabil (Taylor, 2011). Mengingat, karena CBT merupakan pendekatan yang sangat berat, karena harus menggabungkan antara Cognitive Therapy “Mempercayai bahwa respon seseorang seperti emosi dan perilaku” yang bersumber dari pikiran, dengan Behavior Therapy “Upaya dalam mengurangi atau meningkatkan perilaku seseorang. Artinya, apabila seseorang yang mengalami stres terlalu berat, akan sangat disayangkan apabila harus menjalani jenis terapi CBT ini. Itulah sebabnya terapi CBT berat, selain karena harus ada yang dilakukan, juga harus ada yang di-explore pada pikiran seseorang yang menjalani terapi. Sehingga, anggapan dari hasil terapi ini mencakup dalam upayanya untuk 1) Perubahan pemikiran dapat mengubah perilaku, 2) Perubahan perilaku dapat mengubah cara berpikir.
Dengan demikian, Stoikisme dan psikologi kontemporer
berpadu dalam gagasan bahwa keseimbangan batin bukan hanya hasil dari kekuatan
individu semata, tetapi juga terbentuk melalui hubungan yang sehat dengan orang
lain. Dan hal ini tentu sangat dibutuhkan. Dengan akhir kesimpulan, bahwa
seseorang disarankan untuk mencari solusi dalam menghadapi stres seperti
bertemu dengan orang lain untuk mengobrol, ataupun mencari aktivitas sehat
lainnya guna paling tidaknya mereda stres itu. Hindari kesendirian. Dan itu
sangat berbahaya bagi pikiran, terlebih apabila kita digandrungi dengan banyak
tekanan “stres”. Hingga lebih parahnya, akan sangat mengerikan apabila
seseorang yang mengalami stres dan berujung pada depresi.
Yuk, Klik Link: https://collshp.com/terpurukid_ untuk menemukan berbagai rekomendasi buku bagus dan
keren. Salam hangat penuh mesra untuk semua. Terima kasih. Info lanjut lebih
mesra: Instagram @terpuruk_id. Atau bisa juga kunjungi menu pada About Me.
Berikut adalah beberapa Daftar Pustaka yang menjadi
rujukan dalam artikel ini.
Annas, J. (2007). Stoic Ethics and Human Nature.
Oxford: Oxford University Press.
Aurelius, M. (2019). Meditations. London:
Penguin Classics.
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress,
Social Support, and the Buffering Hypothesis. Psychological Bulletin,
98(2).
Hadot, P. (1995). Philosophy as a Way of Life:
Spiritual Exercises from Socrates to Foucault. Oxford: Blackwell.
Henry Manampiring. (2019). “Filosofi Teras”.
Kabat-Zinn, J. (1994). Wherever You Go, There You
Are: Mindfulness Meditation in Everyday Life. New York: Hyperion.
Taylor, S. E. (2011). Social Support: A Review.
Oxford Handbook of Health Psychology. Oxford University Press.
Rizal, M. (2025). Psikologi Filsafat dan
Spiritualitas Modern. Jakarta: Pustaka Lintas Makna.
.png)

Komentar
Posting Komentar