Langsung ke konten utama

Isu “Kudeta Politik” Prabowo oleh Gibran Mengemuka: Bermula dari Candaan Kaesang hingga Prediksi Rocky Gerung

ilustrasi. sumber foto: chatgpt.com Isu mengenai kemungkinan Presiden Prabowo Subianto akan “dikudeta” oleh wakil presidennya, yaitu Gibran Rakabuming Raka pada tahun 2029,  muncul ke permukaan pada saat dimana setelah pernyataan Kaesang Pangarep dalam sebuah podcast YouTube, channel miliknya yaitu "Kaesang Pangarep by GK Hebat". Video tersebut viral di media sosial, dimana podcast tersebut saat itu dipandu oleh Kiki dan bintang tamu oleh Bobon Santoso, mulanya percakapan berlangsung santai dan banyak mengundang tawa, akan tetapi dalam podcastnya itu, Kaesang secara tidak sengaja melontarkan kalimat yang seolah-olah menyiratkan bahwa adiknya kelak akan menjadi wakil presiden dan berpotensi “mengambil alih” kekuasaan dari Prabowo. Diketahui, percakapan ini terjadi sebelum pilpres, dan meskipun pernyataan itu disampaikan dengan nada bercanda, salah satu tamu dalam podcast tersebut ada yang menanggapinya bahwa hal itu serius, bahkan menyebut Kaesang terlalu polos dan kurang berh...

Mengkaji Prinsip dari Seekor Keledai: Sebuah Konsep Mindfulness & Stoikisme dalam Filsafat Kuno


Prinsip Keledai di dunia modern. (Sumber Foto: Pxhere.com).


Dalam kehidupan yang modern dan penuh tuntutan, manusia sering kali terjebak dalam dua posisi ekstrem, yaitu menolak rasa sakit atau menyerah sepenuhnya padanya. Di antara dua kutub itu, muncul sebuah prinsip yang sederhana namun mendalam yaitu "prinsip keledai", sebuah kemampuan untuk tetap tegar dan bertahan di tengah kesulitan, tanpa mengeluh atau menghindar. Prinsip ini, meskipun terlihat sederhana, memiliki pengaruh yang mendalam dalam dua tradisi besar, yaitu mindfulness dalam psikologi modern (Kabat-Zinn, 1994) dan Stoikisme dalam filsafat kuno.


Keledai, seringkali dipandang sebagai salah satu hewan yang membebankan, atau selalu dikenal dengan penuh keterbelakangan. Akan tetapi, justru dari hewan ini menyiratkan terhadap cerminan kebijaksanaan eksistensial yang masih relevan bagi manusia modern saat ini.


Kendati demikian, karena sebenarnya keledai jika kita kaji secara lebih jauh, merupakan metafora kehidupan manusia yang sabar, realistis, dan sadar batas. Ia juga bukan hanya menjadi salah satu hewan yang berusaha tampil kuat di mata dunia, akan tetapi sekaligus sebagai salah satu makhluk yang menjalankan fungsinya dengan tenang, tanpa pencitraan, serta tanpa ambisi berlebihan.



Konsep Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) & Relevansi terhadap Stoik

Jon Kabat-Zinn (1994), pendiri konsep Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), mengintervensikan mindfulness sebagai “kesadaran yang muncul melalui perhatian yang disengaja, pada saat ini, tanpa menghakimi”. Dalam praktiknya, mindfulness melatih individu, seperti 1) Menyadari pikiran dan emosi tanpa terperangkap di dalamnya, 2) Menerima penderitaan sebagai bagian dari pengalaman manusia, 3) Menghadapi kesulitan dengan kehadiran penuh, bukan dengan penolakan.


Jika dikaitkan dengan prinsip keledai, mindfulness mengajarkan diam yang sadar, bukan diam karena tidak mampu bereaksi, tetapi karena memilih untuk tidak reaktif. Seperti keledai yang berdiri kokoh menghadapi beban, individu yang berlatih mindfulness belajar menanggung penderitaan dengan kehadiran penuh dan kesabaran aktif.


Sementara, relevansi dari prinsip Stoik, pada dasarnya sejalan dengan mindfulness, yaitu sebagaimana bahwa penderitaan tidak datang dari peristiwa itu sendiri, melainkan dari reaksi kita terhadapnya. Sehingga, bagi seorang Stoik sejati tidak melawan kenyataan, tetapi menyesuaikan diri dengannya dengan kebijaksanaan dan keteguhan batin.



Mengenal Kesederhanaan Keledai, Makna Mindfulness, & Bertahan dalam Penderitaan

Dalam kehidupannya yang sederhana dan ritmis, hal ini dapat dihubungkan dengan konsep mindfulness dalam psikologi kontemporer (Kabat-Zinn: 1994), yakni kesadaran penuh terhadap momen saat ini tanpa menghakimi. Maksudnya, di dunia yang serba instan, cepat dan digital, telah banyak individu kehilangan kontak dengan kesadaran tubuh dan pikirannya sendiri. Mengambil nilai dari keledai yang hidup dengan ritme alami, sebagaimana dalam makan, bekerja, hingga beristirahat, ini menjadikannya terhadap simbol keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Tentu, sikap ini tidak begitu memaksakan dengan tetap harus berjalan apa adanya.


Keledai memberikan pesan bahwa manusia juga berhak memilih untuk tidak selalu berlari mengejar hasil dengan menggebu-gebu, akan tetapi tetap mengedepankan terhadap penghargaan di setiap langkah prosesnya. Sehingga, dalam konteks terapi mindfulness, hal ini terbukti efektif mengurangi stres, kecemasan, dan meningkatkan regulasi emosi. Hal yang serupa juga, bahwa keledai dengan “kebijaksanaan-nya” dalam menjalani hidup dengan perlahan namun pasti, dalam ajaran filsafat stoikisme, sikap ini juga berhubungan dengan sebuah konsep “dikotomi kendali”. Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius, pencetus stoik yang “menekankan tergadap pentingnya mengendalikan hal-hal yang bisa kita kendalikan dan menerima hal-hal yang tidak bisa”. Baca Juga Artikel Ini:

- Kesabaran dalam Penderitaan: Relevansi Stoikisme dan Kisah Viktor Frankl

- Apakah Kita Boleh "Berpikir Negatif" dalam Kehidupan Sehari-hari? Telaah kajian Stoikisme



Bertahan, Tetap Berjalan, dan Menerima berbagai Tantangan

Sementara, dalam simbolisme etis dan spiritual, keledai mampu menunjukkan bahwa kekuatan sejati pada dasarnya bukanlah kecepatan atau dominasi, tetapi kemampuan dalam bertahan dengan sabar dan konsisten, dengan tetap berada di jalan yang benar. Hal ini juga mengingatkan pada salah satu pelajaran berharga yang diberikan oleh salah satu seorang filsuf, Marcus Aurelius, bahwa:


Jadilah layaknya tebing di pinggir pantai yang terus dihantam ombak, namun tetap tegar dan menjinakkan murka air di sekelilingnya”. (Meditations).


Maksudnya, kita dianjurkan untuk tetap bertahan meski berbagai tantangan dan cobaan dalam hidup yang kian menerpa. Sehingga, semuanya mampu terlewati, dan kita telah terlatih dalam menghadapinya. Begitu juga, sebuah konsep Mindfulness yang ada pada keledai, bahwa dengan sabar dan konsisten dalam menjalani kehidupan, dan tetap menerimanya, ini menjadikannya sebagai kekuatan sejati bagi setiap individual yang menerapkannya.


Sikap yang ditampakkan dari keledai, bukan berarti melawan keras kehidupan, dan tidak juga menyerah pada kehidupan. Akan tetapi, menanggung beban, atau penderitaan dengan tetap tenang dan terus berjalan, serta tidak sampai kehilangan martabat.


Maka, dalam hal ini, jika kita analogikan, sikap yang ditujukkan keledai, selaras dengan ajaran dari aliran filsafat stoa terhadap kehidupan individual modern saat ini, yaitu laksana sebuah pertandingan yang menggambarkan kesusahan dalam hidup. Umumnya, jika kita ingin menang “kebahagiaan hidup” harus mengalahkan lawan “cobaan atau musibah”. Sebagaimana pesilat yang menjatuhkan lawan. Tapi, menurut stoa berbeda dalam menyikapinya, yaitu cukup dengan “endure”; bertahan, sampai musuh “cobaan” itu sendiri menyerah dan kita telah terbiasa. Hal ini sangat menarik, karena ternyata telah menerapkan prinsip stoa ini dalam kehidupannya. Maksud bertahan, bukan berarti kita berdiam diri saja, namun tetap maju dan melangkah dalam menjalani serta menghadapi hidup; meskipun semua itu harus perlahan.




Selanjutnya, hal yang senada menurut Rachel Anne Ridge, penulis buku The Donkey Principle, yang mengungkapkan bahwa dalam hidup dan pekerjaan, bukan kecepatan atau gaya yang menentukan sebuah keberhasilan jangka panjang, tetapi ketahanan, kesetiaan, dan keaslian.

 


Klik Link: https://collshp.com/terpurukid_ untuk menemukan berbagai rekomendasi buku bagus dan keren.. Salam hangat penuh mesra untuk semua. Terima kasih. Info lanjut lebih mesra: Instagram @terpuruk_id.

 

References:

Jon Kabat-Zinn. (1994). "Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation in Everyday Life". New York: Hyperion.

Henry Manampiring. (2019). “Filosofi Teras”.

Rachel Anne Ridge. (2025). “The Donkey Principle: Rahasia untuk Hidup Jangka Panjang di Dunia yang Serba Cepat”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Isu “Kudeta Politik” Prabowo oleh Gibran Mengemuka: Bermula dari Candaan Kaesang hingga Prediksi Rocky Gerung

ilustrasi. sumber foto: chatgpt.com Isu mengenai kemungkinan Presiden Prabowo Subianto akan “dikudeta” oleh wakil presidennya, yaitu Gibran Rakabuming Raka pada tahun 2029,  muncul ke permukaan pada saat dimana setelah pernyataan Kaesang Pangarep dalam sebuah podcast YouTube, channel miliknya yaitu "Kaesang Pangarep by GK Hebat". Video tersebut viral di media sosial, dimana podcast tersebut saat itu dipandu oleh Kiki dan bintang tamu oleh Bobon Santoso, mulanya percakapan berlangsung santai dan banyak mengundang tawa, akan tetapi dalam podcastnya itu, Kaesang secara tidak sengaja melontarkan kalimat yang seolah-olah menyiratkan bahwa adiknya kelak akan menjadi wakil presiden dan berpotensi “mengambil alih” kekuasaan dari Prabowo. Diketahui, percakapan ini terjadi sebelum pilpres, dan meskipun pernyataan itu disampaikan dengan nada bercanda, salah satu tamu dalam podcast tersebut ada yang menanggapinya bahwa hal itu serius, bahkan menyebut Kaesang terlalu polos dan kurang berh...

Hakikat Filsafat Pendidikan di Era Digital Menurut Boris V. Markov & Svetlana V. Volkova: Sebuah Penelitian pada tahun 2020

Ilustration; Seorang Bapak Filsafat Pendidikan Memegang Buku. (Sumber foto: pngtree. com ). Secara sederhana, pada dasarnya  filsafat pendidikan merupakan sebuah refleksi rasional dan kritis tentang hakikat manusia, pengetahuan, nilai, dan proses belajar. Artinya, dalam hal ini tentu menjadi dasar atau landasan terhadap arah dan tujuan pendidikan. Sementara, dalam era digital, filsafat pendidikan tetap harus memiliki relevansi, dan juga menjadi kompas moral dan intelektual untuk menavigasi kompleksitas teknologi. Menurut Markov dan Volkova (2020), filsafat pendidikan di era digital harus mengarahkan manusia agar tidak menjadi “ pengguna buta teknologi ”, tetapi juga tetap memiliki kesadaran etis dan mempunyai kompetensi dalam berpikir reflektif atas setiap tindakan digitalnya. Pasalnya, meskipun sangat banyak dari beberapa aliran dan metode dalam dunia filsafat dan pendidikan, sebenarnya, analisis yang benar-benar mendalam dan sistematis dalam filsafat pendidikan masih jarang dil...

Minat Baca di Indonesia: Urgensi Membaca dan Keterkaitannya dengan Mutu Pendidikan

Ilustration; Anak Kecil Membaca Buku di Perpustakaan. (Sumber foto: Pxhere.com ). Minat baca merupakan salah satu indikator penting bagi suatu negara, dalam menentukan kualitas sumber daya manusianya. Bangsa yang gemar membaca, akan memiliki tingkat literasi atau pengetahuan yang tinggi, berpikir kritis, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun, berbagai survei menunjukkan bahwa tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Kondisi seperti ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan nasional yang seharusnya menjadi ruang utama pembentukan karakter dan kecerdasan bangsa (Yoni, E: 2020). Pentingnya Minat Baca Dalam Mendorong Kemajuan Dunia Pendidikan.  Inovasi Pendidikan ,  7 (1). Oleh karena itu, membangun budaya membaca bukan sekadar kegiatan individu, tetapi juga sebuah urgensi nasional dalam meningkatkan mutu bagi pendidikan. Indonesia memiliki Perpustakaan Tertinggi di Dunia, Namun minat baca Masyarakat masih rendah? Pada ajang bergen...

Information