Prinsip Keledai di dunia modern. (Sumber Foto: Pxhere.com).
Dalam kehidupan yang modern dan penuh tuntutan,
manusia sering kali terjebak dalam dua posisi ekstrem, yaitu menolak rasa sakit
atau menyerah sepenuhnya padanya. Di antara dua kutub itu, muncul sebuah
prinsip yang sederhana namun mendalam yaitu "prinsip keledai", sebuah
kemampuan untuk tetap tegar dan bertahan di tengah kesulitan, tanpa mengeluh
atau menghindar. Prinsip ini, meskipun terlihat sederhana, memiliki pengaruh
yang mendalam dalam dua tradisi besar, yaitu mindfulness dalam psikologi modern
(Kabat-Zinn, 1994) dan Stoikisme dalam filsafat kuno.
Keledai, seringkali dipandang sebagai salah satu hewan
yang membebankan, atau selalu dikenal dengan penuh keterbelakangan. Akan
tetapi, justru dari hewan ini menyiratkan terhadap cerminan kebijaksanaan
eksistensial yang masih relevan bagi manusia modern saat ini.
Kendati demikian, karena sebenarnya keledai jika kita
kaji secara lebih jauh, merupakan metafora kehidupan manusia yang sabar,
realistis, dan sadar batas. Ia juga bukan hanya menjadi salah satu hewan yang
berusaha tampil kuat di mata dunia, akan tetapi sekaligus sebagai salah satu
makhluk yang menjalankan fungsinya dengan tenang, tanpa pencitraan, serta tanpa
ambisi berlebihan.
Konsep Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) &
Relevansi terhadap Stoik
Jon Kabat-Zinn (1994), pendiri konsep Mindfulness-Based
Stress Reduction (MBSR), mengintervensikan mindfulness sebagai “kesadaran yang
muncul melalui perhatian yang disengaja, pada saat ini, tanpa menghakimi”. Dalam praktiknya, mindfulness melatih individu, seperti 1) Menyadari pikiran
dan emosi tanpa terperangkap di dalamnya, 2) Menerima penderitaan sebagai
bagian dari pengalaman manusia, 3) Menghadapi kesulitan dengan kehadiran penuh,
bukan dengan penolakan.
Jika dikaitkan dengan prinsip keledai, mindfulness
mengajarkan diam yang sadar, bukan diam karena tidak mampu bereaksi, tetapi
karena memilih untuk tidak reaktif. Seperti keledai yang berdiri kokoh
menghadapi beban, individu yang berlatih mindfulness belajar menanggung
penderitaan dengan kehadiran penuh dan kesabaran aktif.
Sementara, relevansi dari prinsip
Stoik, pada dasarnya sejalan dengan mindfulness, yaitu sebagaimana bahwa penderitaan
tidak datang dari peristiwa itu sendiri, melainkan dari reaksi kita terhadapnya.
Sehingga, bagi seorang Stoik sejati tidak melawan kenyataan, tetapi menyesuaikan
diri dengannya dengan kebijaksanaan dan keteguhan batin.
Mengenal Kesederhanaan Keledai, Makna Mindfulness, &
Bertahan dalam Penderitaan
Dalam kehidupannya yang sederhana dan ritmis, hal ini
dapat dihubungkan dengan konsep mindfulness dalam psikologi kontemporer
(Kabat-Zinn: 1994), yakni kesadaran penuh terhadap momen saat ini tanpa
menghakimi. Maksudnya, di dunia yang serba instan, cepat dan digital, telah banyak
individu kehilangan kontak dengan kesadaran tubuh dan pikirannya sendiri.
Mengambil nilai dari keledai yang hidup dengan ritme alami, sebagaimana dalam makan,
bekerja, hingga beristirahat, ini menjadikannya terhadap simbol keseimbangan
antara aktivitas dan istirahat. Tentu, sikap ini tidak begitu memaksakan dengan
tetap harus berjalan apa adanya.
Keledai memberikan pesan bahwa manusia juga berhak
memilih untuk tidak selalu berlari mengejar hasil dengan menggebu-gebu, akan
tetapi tetap mengedepankan terhadap penghargaan di setiap langkah prosesnya. Sehingga,
dalam konteks terapi mindfulness, hal ini terbukti efektif mengurangi stres,
kecemasan, dan meningkatkan regulasi emosi. Hal yang serupa juga, bahwa keledai
dengan “kebijaksanaan-nya” dalam menjalani hidup dengan perlahan namun pasti, dalam
ajaran filsafat stoikisme, sikap ini juga berhubungan dengan sebuah konsep
“dikotomi kendali”. Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius, pencetus
stoik yang “menekankan tergadap pentingnya mengendalikan hal-hal yang bisa kita
kendalikan dan menerima hal-hal yang tidak bisa”. Baca Juga Artikel Ini:
- Kesabaran dalam Penderitaan: Relevansi Stoikisme dan Kisah Viktor Frankl
- Apakah Kita Boleh "Berpikir Negatif" dalam Kehidupan Sehari-hari? Telaah kajian Stoikisme
Bertahan, Tetap Berjalan, dan Menerima berbagai Tantangan
Sementara,
dalam simbolisme etis dan spiritual, keledai mampu menunjukkan bahwa kekuatan
sejati pada dasarnya bukanlah kecepatan atau dominasi, tetapi kemampuan dalam
bertahan dengan sabar dan konsisten, dengan tetap berada di jalan yang benar.
Hal ini juga mengingatkan pada salah satu pelajaran berharga yang diberikan
oleh salah satu seorang filsuf, Marcus Aurelius, bahwa:
“Jadilah
layaknya tebing di pinggir pantai yang terus dihantam ombak, namun tetap tegar
dan menjinakkan murka air di sekelilingnya”. (Meditations).
Maksudnya,
kita dianjurkan untuk tetap bertahan meski berbagai tantangan dan cobaan dalam
hidup yang kian menerpa. Sehingga, semuanya mampu terlewati, dan kita telah
terlatih dalam menghadapinya. Begitu juga, sebuah konsep Mindfulness yang ada
pada keledai, bahwa dengan sabar dan konsisten dalam menjalani kehidupan, dan
tetap menerimanya, ini menjadikannya sebagai kekuatan sejati bagi setiap
individual yang menerapkannya.
Sikap
yang ditampakkan dari keledai, bukan berarti melawan keras kehidupan, dan tidak
juga menyerah pada kehidupan. Akan tetapi, menanggung beban, atau penderitaan dengan
tetap tenang dan terus berjalan, serta tidak sampai kehilangan martabat.
Maka,
dalam hal ini, jika kita analogikan, sikap yang ditujukkan keledai, selaras dengan
ajaran dari aliran filsafat stoa terhadap kehidupan individual modern saat ini,
yaitu laksana sebuah pertandingan yang menggambarkan kesusahan dalam hidup.
Umumnya, jika kita ingin menang “kebahagiaan hidup” harus mengalahkan lawan “cobaan
atau musibah”. Sebagaimana pesilat yang menjatuhkan lawan. Tapi, menurut stoa
berbeda dalam menyikapinya, yaitu cukup dengan “endure”; bertahan, sampai musuh
“cobaan” itu sendiri menyerah dan kita telah terbiasa. Hal ini sangat menarik,
karena ternyata telah menerapkan prinsip stoa ini dalam kehidupannya. Maksud
bertahan, bukan berarti kita berdiam diri saja, namun tetap maju dan melangkah
dalam menjalani serta menghadapi hidup; meskipun semua itu harus perlahan.
Selanjutnya,
hal yang senada menurut Rachel Anne Ridge, penulis buku The Donkey Principle,
yang mengungkapkan bahwa dalam hidup dan pekerjaan, bukan kecepatan atau gaya
yang menentukan sebuah keberhasilan jangka panjang, tetapi ketahanan,
kesetiaan, dan keaslian.
Klik
Link: https://collshp.com/terpurukid_ untuk menemukan berbagai rekomendasi buku bagus dan
keren.. Salam hangat penuh mesra untuk semua. Terima kasih. Info lanjut lebih
mesra: Instagram @terpuruk_id.
References:
Jon
Kabat-Zinn. (1994). "Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation in
Everyday Life". New York: Hyperion.
Henry Manampiring. (2019). “Filosofi Teras”.
Rachel
Anne Ridge. (2025). “The Donkey Principle: Rahasia
untuk Hidup Jangka Panjang di Dunia yang Serba Cepat”.

.png)

Komentar
Posting Komentar