Di era digital saat ini, setiap hari kita hidup di
tengah arus suara yang begitu tak pernah diam. Dari layar handphone,
suara-suara itu berdesakan. Seperti notifikasi pesan, unggahan media sosial,
hingga banjir banyaknya opini di kolom komentar dalam berbagai postingan. Dengan
demikian, dunia saat ini terasa seperti sebuah pasar besar yang buka 24 jam
nonstop, di mana setiap orang dapat berbicara
secara bebas, akan tetapi masih sedikit yang benar-benar berpikir. Sehingga, pernahkah
kita merasa lelah dari pagi hingga malam harus menghadapi hal demikian.
Oleh karena demikian, di tengah keramaian digital saat
ini, muncul satu pertanyaan sederhana, namun perlu kita refleksikan. Yaitu “Masih
perlukah kita berfilsafat di era digital yang berisik ini?”.
Filsafat dengan Kebisingan Digital
Umumnya, seringkali filsafat dianggap sebagai ajaran
yang rumit, bahkan jauh dari kehidupan nyata sehari-hari. Namun, dalam hal ini
filsafat yang sebenarnya adalah sebuah keterampilan untuk berpikir jernih di
tengah kekacauan. Tentu, kita tertuntut dengan sendirinya untuk teliti, cermat,
serta hati-hati dalam melihat dan menyikapi sesuatu. Sementara, dunia digital,
dengan mudahnya mendorong kita untuk cepat bereaksi seperti “like”, “share”,
“comment”. Sehingga, hadirnya filsafat dalam konteks ini justru menyadarkan
kita untuk sesekali berhenti sejenak dan bertanya, “Mengapa saya melakukan
ini?”.
Socrates, atau bapak filsafat Barat, pernah meninggalkan
kutipan bahwa, “Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani.”
(Plato, Apology, 399 SM). Bayangkan jika prinsip ini diterapkan di era
media sosial. Kita mungkin akan lebih berhati-hati sebelum menulis komentar
tajam, atau tidak mudah terprovokasi oleh berita palsu.
Pada dasarnya, pertanyaan
demikian merupakan salah satu fundamental terhadap eksistensi, pengetahuan,
nilai, realitas, kebijaksanaan, ataupun berbagai topik lainnya yang relevan,
khususnya dengan keberadaan manusia di dunia ini (Ibda, 2018; Muslim et al.,
2023). Artinya, kita perlu mempertanyakan perihal ini, karena filsafat menjadi
sangat krusial bagi kehidupan manusia modern yang telah bersanding mesin.
Disisi
lain, komunikasi akan terus berjalan terutama dalam konteks yang berhubungan
dengan nilai-nilai, kepercayaan, norma, dan struktur sosial yang dapat mempengaruhi
bagaimana sebuah pesan disampaikan dan diterima.
Filsafat sebagai Filter Pikiran; Mulailah untuk Berhenti
Sejenak & Mempertanyakannya
Jika dapat dianalogikan, sebenarnya bahwa otak kita itu
layaknya dapur. Sementara, Internet menyediakan semua bahan-bahannya. Ada yang
segar, dan banyak juga yang basi. Sehingga, jika kita tanpa memiliki kemampuan dalam
memilih dan mengolah, tentu kita akan sakit perut, bahkan keracunan informasi. Dengan
demikian, hadirnya filsafat akan berperan sebagai filter mental kita.
Nicholas Carr, dalam The Shallows, menyatakan
bahwa “Logika mengajarkan kita untuk menimbang bukti
sebelum dapat dipercaya”. Artinya, manusia memiliki logika, pada saat kita
dihadapkan dengan suatu peristiwa atau problematika hidup, kita meskinya
mengkaji dan menimbang dari bukti-bukti yang ada sebelum kemudian mengambil
salah satunya dan dapat kita percayai akan kebenarannya. Adapun etika,
bersanding untuk membantu menilai apa yang baik untuk dilakukan. Dan melalui filsafat
eksistensial, mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar tentang seberapa
banyak “like” yang kita terima, tapi tentang seberapa dalam makna yang
kita rasakan. Hal ini mengingat, karena filsafat juga dapat memberikan sebuah
kerangka teoritis dan metodologis, untuk memecahkan masalah etika dalam
komunikasi, serta mampu memberikan landasan dalam mengembangkan prinsip-prinsip
etika yang kuat dan konsisten (Kriyantono, 2019).
Selain
itu, dalam Man’s Search for Meaning, karya Viktor Frankl (1946), menjelaskan bahwa dalam keadaan di tengah
penderitaan terdalam sekalipun, manusia akan tetap bisa menemukan makna
hidupnya. Begitu juga di tengah kebisingan digital, karena segala makna akan tetap
bisa ditemukan, dengan kunci, kita mau sesekali sejenak berhenti dan mulai
mempertanyakan.
Sedangkan, di era yang menuntut kita serba cepat saat
ini, seseorang yang mencoba untuk berfilsafat, berarti berani untuk sesekali
berhenti dan mulai bertanya, bukan juga untuk mundur, akan tetapi untuk
memahami arah yang sebenarnya. Bahkan, dari dua ribu tahun lalu, kita
sebenarnya telah dipesankan oleh Socrates, pada kutipan pesan sebelumnya.
Maksudnya, jika nasihat atau pesan itu diterapkan hari ini dan di era ini, akan
ada kemungkinan bahwa kita akan menekan tombol “pause” sebelum ikut,
seperti menyebarkan berita yang belum jelas sumbernya, ataupun menahan jari kita
sebelum berkomentar yang tidak bermakna, yang hanya terpancing karena emosi
sesaat.
Dan budaya “scroll sosmed” tanpa arah, masih sering
kali dilakukan. Budaya ini menjadi begitu sangat disayangkan, dan perlu
diperhatikan. Sementara, Informasi akan terus masuk tanpa jeda. Oleh karenanya,
filsafat mengajarkan kekuatan dalam hal ini untuk jeda. Sebagaimana dalam
aliran Stoisisme, mengingatkan bahwa kita tidak bisa mengontrol dunia, terkecuali
reaksi kita terhadapnya (Marcus Aurelius, Meditations). Hal ini
berkaitan dengan sebuah konsep dikotomi kendalai. Untuk mengetahui hal lain
dari konsep tersebut, baca artikel sebelumnya:
hKesabaran-dalam-penderitaan-relevansi-stoikisme
Filsafat-stoicism-tentang-pentingnya-Sosial-Support
Apakah-kita-boleh-berpikir-negatif?
Sebagai contoh, kita melihat komentar negatif di sosial
media, dan alih-alih marah, kita harusnya bisa berpikir: “Apakah kemarahanku
menambah nilai bagi hidupku?”. Ini merupakan dikotomi kendali dalam
Stoisisme, dan menjadi salah satu momen filsafat kecil di era digital.
Berfilsafat sama dengan Merawat Kemanusiaan/ Menjaga
Kewarasan
Di tengah teknologi saat ini yang semakin cerdas,
filsafat juga justru menjaga agar manusia tetap manusiawi atau menjaga
kewarasan kita. Waras disini bukan berarti lawan dari tidak waras; gila. Tapi
lebih terhadap kesadaran dengan penuh pemahaman. Pada dasarnya, karena seperti Artificial
Intelligence (AI), dapat memproses sebuah data, namun, secara spesifik, ia
tidak bisa mencari makna yang sesungguhnya. Dalam hal ini, karena hanya manusia
yang seharusnya bisa bertanya, seperti “Apa yang benar? Apa yang baik? Untuk
apa saya hidup?”. Oleh demikian, dengan kita berfilsafat di era digital saat
ini, sebenarnya bukan hanya sebagai kemewahan intelektual, melainkan juga
sebagai kebutuhan moral dan emosional kita di kehidupan saat ini.
Menurut
Sherry Turkle, salah seorang profesor dari MIT,
dalam bukunya yang berjudul Alone Together, menyatakan bahwa teknologi sebenarnya
dapat membuat kita “terhubung”, akan tetapi juga membuat kita “kesepian”.
Berdasarkan hal ini, tentu, kehadiran filsafat dapat memainkan peranannya yang
sangat penting. Yaitu demi menjaga agar manusia tetap manusiawi serta tetap
waras di tengah kecerdasan buatan yang semakin menyerupai kita. Alhasil, dalam
konteks ini, dengan kita yang terbuka untuk mulai mencoba bertanya, adalah cara
paling elegan bagi setiap manusia modern saat ini untuk tetap waras dan
manusiawi dalam kehidupan digital yang terlalu ramai.
Yuk, Klik Link: https://collshp.com/terpurukid_ untuk menemukan berbagai rekomendasi buku bagus dan
keren. Salam hangat penuh mesra untuk semua. Terima kasih. Info lanjut lebih
mesra: Instagram @terpuruk_id. Atau bisa juga kunjungi menu pada About Me.
Aurelius, Marcus. (2002). Meditations. Modern
Library Edition.
Carr, Nicholas. (2010). The Shallows: What the
Internet Is Doing to Our Brains. W.W. Norton & Company.
Frankl, Viktor E. (1946). Man’s Search for Meaning.
Beacon Press.
Ibda,
H. (2018). Filsafat umum zaman now. CV. Kataba Group.
Kriyantono,
R. (2019). Pengantar Lengkap Ilmu Komunikasi Filsafat dan Etika Ilmunya
Serta Perspekfif Islam. Prenada Media.
Muslim,
S., Sesriyani, L., Astuti, I. A. D., Safitri, P. T., & Anugrah, A. (2023). Filsafat
Pendidikan: Nilai, Budaya dan Komunikasi. Media Sains Indonesia.
Plato. Apology of Socrates. 399 SM.
Turkle, Sherry. (2011). Alone Together: Why We
Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books.


Komentar
Posting Komentar